Menggoyang Dominasi Liga Inggris
Eksistensi La Liga kini diuji di Champions League. Meski musim lalu berjaya lewat Barcelona, superioritas Liga Primer Inggris agaknya masih sulit dikalahkan. Fakta itu bisa dilihat dari hasil sementara dalam fase grup.
Hingga selesainya matchday 4, Inggris telah meloloskan tiga wakilnya ke babak 16 besar alias ronde knock-out, yakni MU, Chelsea dan Arsenal. Bagaimana dengan La Liga? Negeri Matador baru menempatkan satu klub di fase gugur, yaitu Sevilla.Real Madrid, pemegang rekor dengan sembilan kali juara, juga membutuhkan dua partai terakhir untuk mencari tiket ke perdelapan final. Los Merengues mesti bersaing dengan AC Milan dan Olympique Marseille.
Satu wakil La Liga lain, Atletico Madrid, bahkan sudah masuk kotak. Atleti tak mampu bertahan menghadapi gedoran Chelsea dan FC Porto.
Konsistensi tim-tim Inggris tak lepas dari membanjirnya pemain-pemain asing berkualitas. MU begitu kokoh di kompetisi elite Eropa itu berkat donasi tinggi Ronaldo.
Chelsea, kendati belum pernah berjaya, tetap stabil menyusul kedatangan bintang-bintang berkelas macam Didier Drogba, Michael Essien dan Michael Ballack. Arsenal lebih gila lagi.
Demi membentuk sebuah tim berkarakter yang punya ketajaman ekstra, pelatih Arsene Wenger malah berani menurunkan 11 starter-nya tanpa satu pun pemain Inggris.
Kenapa klub-klub Spanyol belum bisa langsung tancap gas? Selain harus beradaptasi dengan pemain baru, problem Barcelona adalah lawan mulai mengetahui titik lemah mereka.
Ketika kalah dan kemudian imbang melawan Rubin Kazan, otak permainan Los Cules berhasil dimatikan. Xavi Hernandez sebagai playmaker ditempel ketat, sementara winger Lionel Messi sukses ’’dikebiri’’.
Kaka memang bagus, tetapi pamornya masih kalah dari mantan superstar MU itu.

